Nasi Uduk & Ulam Ibu Yoyo

Dibesarkan namanya oleh Alm. Bapak Bondan Winarno, kedai kecil yang terselubung di gang sempit ini sudah mulai beroperasi sejak tahun 1982. Walaupun keberadaannya beberapa kali tergusur oleh pembangunan kota, banyaknya dukungan dari para pelanggan setia membuat keluarga dibalik bisnis ini tetap gigih dalam menjajakan kreasi nasi uduk dan ulam khas Betawinya.

Alm. Bapak Asmawi, yang adalah sosok pendiri kedai ini lahir dari keluarga pedagang. Tak heran jika semangat dari Pak Asmawi menjadi pondasi kuat yang terus membangun bisnis ini dari tahun ke tahun. Semangat tersebut tersalurkan terus sampai ke generasi ketiga, dimana sekarang kedai ini dipegang oleh Bapak Rizal, anak kandung dari Bapak Asmawi.

 

Walaupun sudah masuk ke era modern, Bapak Rizal masih menjaga keautentikan cara memasak nasi uduk dan ulam yang diturunkan oleh orang tuanya. Beliau lebih memilih untuk menggunakan kukusan bambu dan kayu bakar dibanding dengan peralatan masak serba praktis. “Beda mba, rasa dan aroma yang didapat dengan pemakaian peralatan tradisional ini jauh lebih enak!” Ujar Pak Rizal bersemangat.

Pilihan lauk yang beragam tertata rapi di lemari kaca, memudahkan pelanggan untuk memilih lauk sesuai selera. Waktu paling tepat untuk mengunjungi kedai nasi uduk ini adalah di pagi hari, karena pilihan lauknya bisa berkurang drastis di sore hari, dikarenakan banyaknya pelanggan yang datang untuk makan siang.

Tim Seia Serasa berkesempatan untuk mencoba nasi uduk beserta empal dan semur tahu. Selain dua lauk utama, nasi uduknya juga datang dengan sambal kacang, kerupuk dan timun potong yang dibubuhi bumbu acar kuning di atasnya. Nasi uduknya gurih, dengan rasa merica dan rempah-rempah yang kuat. Semur tahunya padat dan bumbunya meresap dengan sempurna, tak kalah juga empalnya yang tidak terlalu manis disajikan dengan bentuk yang telah disuwir. Sambal kacangnyapun cukup pedas, namun tidak terlalu kuat rasa pedasnya.

Lalu apa bedanya nasi uduk dengan nasi ulam? Nah, nasi ulam adalah nasi putih yang disajikan dengan taburan serundeng yang melimpah dan kacang ijo pendek, disajikan dengan lauk yang bebas dipilih dari lemari kaca yang sama. Untuk teman makan nasi ulam, Tim Seia Serasa memilih ayam goreng, telur dadar, tempe goreng dan juga sambal goang (sambal mentah khas Betawi). Serundeng yang dipakai terbilang cukup spesial karena langsung dibuat sendiri dan memilki rasa gurih dan manis yang seimbang. Semua lauk yang dicoba terbilang sederhana namun nikmat. Telur dadarnya tebal dan sedikit pedas karena ada potongan cabai di dalamnya. Ayam dan tempe bumbu kuningnya juga tergoreng coklat keemasan dengan sempurna. Semua berperan penting dalam membuat sepiring nasi ulam ini terasa spesial.

Walaupun terbilang sangat kecil dibandingkan dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya, semoga kedai kecil ini tetap berdiri kokoh dan menjadi bagian dari masyarakat yang tak lekang dimakan waktu, ya!

Alamat dan jam buka

Jl. Karet Pedurenan, Gang Dogol, Setiabudi, RT.3/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Jakarta Selatan

Setiap hari
07.00 - 21.00

By |2019-03-28T10:03:24+00:00March 28th, 2019|Streetfood|0 Comments

About the Author: